Nasib Tenaga Kerja Di Indonesia

By | September 19, 2017

Sekarang mencari kerja bukan persoalan mudah, bahkan dengan lulusan sarjana sekalipun mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan terlebih banyaknya lapangan kerja yang memberikan syarat tinggi membuat angka pengangguran di Indonesia semakin meningkat. Terlebih banyaknya tenaga kerja asing semakin membuat penduduk pribumi tersisihkan, jumlah angka pengangguran yang tak teratasi oleh pemerintah membuat munculnya tingkat kemiskinan yang bertambah.

 

Sarjana lulusan kampus Indonesia belum siap pakai

Menaker (menteri ketenagakerjaan) M hanif menilai jika di Indonesia ada dua juta tenaga kerja/tahun, dengan jumlah tersebut mempunyai berbagai masalah yang ada di lapangan. Selain itu, lulusan dari kampus yang ada di Indonesia juga tak dapat langsung siap ketika berhadapan dengan dunia kerja.

 

Hanif juga menguraikan jika dua juga tenaga kerja yang ada di Indonesia pada saat ini menghadapi sejumlah masalah, yang pertama ialah ketidak sesuaian antara bidang kerja dengan pendidikan dan masalah yang kedua ialah tenaga kerja begitu tinggi tak seimbang dengan tumbuhnya industri dan masalah yang ketiga ialah kualifikasi rendah, seperti sarjana perminyakan namun tak mengerti tentang minyak atau sarjana komputer tapi tak bisa mengoperasikan komputer. Tak ada kejelasan dan keterkaitan antara jurusan yang di ambil dengan pekerjaan, ungkap Hanif.

 

Dirinya juga menyoroti tentang kampus yang ada di Indonesia, dimana kini terdapat kurang lebih ada 4 ribu perguruan tinggi di Indonesia dengan jumlah penduduknya sekitar 250 juta jiwa, apabila dibandingkan dengan negara China yang memiliki penduduk sekitar 1,4 Miliar jiwa tapi hanya memiliki perguruan tinggi sekitar 2 ribuan.

 

Penduduk Indonesia seperlima dari negara China namun perguruan tingginya dua kali lipat, sehingga dapat dibayangkan outputnya, itulah yang akan menjadi tantangan para angkatan kerja yang baru. Bahkan banyaknya angkatan kerja yang masih fresh graduate tak dapat langsung bisa terjun ke dalam pasar kerja, dunia industri menginginkan  dapat tenaga kerja yang siap pakai. Ujar Hanif.

 

Menurutnya, tak ada output tenaga kerja yang bisa siap pakai, karena yang ada hanyalah output tenaga kerja yang siap untuk training. Bahkan menurutnya, sistem pendidikan belum secara menyeluruh berorientasi kepada kebutuhan, sehingga tenaga kerja dengan jumlah dua juta/tahun tak bisa langsung terjun kedalam pasar kerja. Dengan begitu, harus ada intervensi yang dilakukan oleh pemerintah mgmdomino ataupun dunia usaha yaitu vocational training menyediakan berbagai pelatihan berorientasi pada profesi.

 

Utamakan tenaga kerja dari negara sendiri

Sudah banyak tenaga kerja di Indonesia yang mempekerjakan tenaga asing, sehingga tak sedikit membuat tenaga kerja di Indonesia kekurangan pekerjaan. Ketua MPR (Zulkifli hasan) kembali mengingatkan supaya masyarakat Indonesia untuk bisa menjadi tuan didalam negeri sendiri. Oleh karena itu, tenaga kerja di Indonesia harus jauh lebih di utamakan.

Zulkifli menuturkan bahwa beras berasal di tanah kita, gula dan garam di produksi dari kita. Sehingga tenaga kerja juga harus mendahulukan dari negara sendiri, dirinya juga mengingatkan, jika kesenjangan sosial serta ketimpangan penguasaan SDA (sumber daya alam) dapat menumbuhkan kecemburuan sosial. Sehingga anggota MPR mendukung terhadap kebijakan pemerintah untuk menjadikan 2017 menjadi tahun yang bisa mengurangi kesenjangan.

 

Dirinya juga menyebutkan nama “Trisakti” yang diberikan oleh presiden pertama Bung Karno, yang artinya ialah Indonesia menjadi tuan dinegara sendiri. Dengan begitu, Trisaksi merupakan cita-cita Indonesia menuju kemandirian dan berdaulat, baik berdaulat dari politik maupun dalam bidang ekomoni.