Bantuan Kemanusiaan Rohingya Sangat Lamban, Kenapa?

By | September 28, 2017

Sudah bisa dibayangkan betapa kasihannya dan memprihatinkannya jika kita membayangkan kondisi dan pemandangan hiruk pikuknya dan kacau balaunya pada awal krisis pengungsi di skala masif. Hal ini yang kita lihat di tenggara Bangladesh, tidak jauh dari perbatasan Myanmar.

Setelah hampir 2,5 pekan kemudian, upaya bantuan kemanusiaan yang mana diorganisir seharusnya sudah mulai bermunculan. Akan tetapi jika kita cermati, dan melihat hal yang terjadi di Coxs Bazar, tempat terdamparnya warga Rohingya yang mengungsi nampaknya belum juga. Pesawat Hercules C-130 yang mana mengangkut berbagai macam keperluan para pengungsi dan juga bantuan makanan serta tenda dan material lainnya untuk penampungan tak jua mendarat di bandara. Tak kita lihat jua truk bantuan yang ada dan mengangkut tenda dan beberapa unit pemurni air yang berjalan lamban menyusuri jalanan yang ramai.

Pengakuan Paling Mengejutkan

Memang ada salah satu pengakuan paling mengejutkan di antara sema hal yang ngeri di sini. Salah satunya adalah pengakuan dari banyak orang Rohingya bahwasanya mereka belum sama sekali terhubung dengan badan kemanusiaan internasional atau lembaga bantuan manapun. Bantuan yang diberikan oleh Indonesia dan juga sejumlah negara yang peduli sudah dikirimkan, tetapi lembaga-lembaga bantuan menyebutkan bantuan poker88 tersebut belum juga sampai ke tangan yang membutuhkan.

Sebagian besar dari para pengungsi mengaku bahwa data mereka, nama dan juga desa asal, dicatat di wilayah perbatasan. Akan tetapi sesudah itu, mereka malah dibiarkan begitu saja. Hampir semuanya, tempat penampungan yang kumuh yang mana terlihat di kota-kota dadakan yang sangat luas di tengah semak belukar dan juga perbukitan rendah tersebut dibuka, dibiayai dan juga dibangun oleh para pengungsi itu sendiri.

Bermunculan Usaha Perekonomian Baru di Pinggir Jalan

Malahan, sekarang tumbuh ekonomi-ekonomi baru di pinggir jalan yang mana merespon kebutuhan dan juga kedatangan para pengungsi tersebut. Di sana bermunculan kios-kios yang mana menjual batang-batang bambu yang baru saja dipotong dan juga lembar-lembar plastic yang tipis. Lembar-lembar plastic itu adalah bahan membuat tempat penampungan darurat dan dijual pada para pengungsi.

Namun apabila Anda tak punya uang, Anda tak akan mendapatkan apapun. Puluhan ribu orang mesti tidur di tempat yang terbuka meskipun hujan datang. Yang lebih menyedihkan adalah persediaan makanan amat sangat terbatas. Orang-orang bakal berkerumun dalam jumlah yang sangat banyak di sekitar truk apabila datang dermaga warga Bangladesh yang mana pada akhirnya melontarkan bermacam-macam makanan dan juga pakaian di tengah-tengah mereka.

Salah satu saksi dari BBC menyebutkan bahwa ia melihat anak-anak dan juga orang tua yang terinjak-injak dalam desak-desakan orang-orang yang tidak terkendali tersebut. Itu bukan berarti bahwa tak ada yang bisa dilakukan. Semua lembaga internasional dan badan bantuan kemanusiaan ada di sini.

Saat berbicara resmi, mereka nampak amat sangat diplomatis. Mereka semua mengakui banyak orang tak mendapatkan bantuan yang mereka saat ini butuhkan dan akan juga mengakui bahwa ada upaya pemberian bantuan yang bisa dilakukan secara lebih baik. Namun bicaralah dengan mereka semua dengan cara off record, bukan untuk disiarkan dan dicatat. Maka Anda akan mendapatkan sebuah cerita yang lain. Mereka mengisahkan kefrustasian mereka tentang kurangnya koordinasi dan juga pembatasan yang mana diberlakukan oleh pemerintah Bangladesh soal bagaimana operasi mereka. jika boleh mengambil contoh, para pengungsi PBB, UNHCR pun seperti demikian.